Ia Pergi Dengan Bungkusan Tekad, Pulang Dalam Bingkisan Kardus

Sidoarjo, 27 Juli 2025

Sore itu, kota masih berjalan seperti biasa—penuh deru knalpot dan langkah-langkah tergesa. Angin menyusup pelan di antara sela-sela semak dan beton jalan. Namun, di pinggir jalan Kedamean, hembusan itu tak sekadar membawa udara—tapi juga kabar duka yang terbungkus rapi dalam kardus tak bernyawa.

Di tepi jalan itu, sebuah kardus besar tergeletak sendiri—tertutup rapi dalam kesunyian, mencurigakan dalam diam. Di dalamnya, tubuh seorang perempuan ditemukan dalam posisi membungkuk, terbungkus plastik. Tak ada darah. Tak ada suara. Tak satu pun petunjuk. Hanya sunyi yang memeluknya, seperti rasa sakit yang tak pernah sempat disuarakan.

Namanya Sevi Ayu Claudia (30), pengemudi ojek online asal Sekardangan, Sidoarjo. Sehari sebelum jasadnya ditemukan, Sevi pergi seperti biasa—menjemput penumpang, mengejar nafkah. Tapi pamitnya terasa asing. Tak ada senyum. Tak ada sapaan. Hanya sebuah lirikan, singkat dan hening—menyisakan curiga di benak sang ibu.

Petang berlalu, malam turun perlahan, dan Sevi belum juga kembali—tak ada kabar, tak ada pesan. Di sudut rumah, Sumaiyah mondar-mandir gelisah, menunggu dengan hati yang digerogoti cemas. Naluri keibuannya bertanya kepada malam yang tak memberi jawaban: di mana anakku? Tapi ia tetap di sana, menunggu dengan setia meskipun panik—hingga pagi datang, bukan membawa harapan, tapi kepastian. Sevi tak kembali. Tak pernah kembali.

Hingga siang tiba, sebuah kabar duka datang menjawab tanya. Sevi akhirnya pulang, namun tak lagi utuh. Jasadnya tergeletak sepi, terpisah puluhan kilometer dari rumahnya. Tubuhnya dibuang di pinggiran jalan raya—terbungkus plastik bening, membungkuk kaku dalam kematian. Tubuh yang harusnya pulang memeluk ibu, malah ditemukan mengenaskan oleh para pencari rumput.

Pihak kepolisian tiba tak lama setelah laporan warga. Garis kuning dibentangkan, jasad dievakuasi, barang bukti dikumpulkan. Penyelidikan digelar. Dan satu kesimpulan tragis muncul: Sevi sudah meninggal 18 hingga 24 jam sebelum ditemukan.

Di tubuhnya, dua jejak tertinggal: kekerasan dan perlawanan. Luka akibat benda tumpul, dan gores-gores samar yang mencerminkan perjuangan terakhir. Seolah tubuh itu bicara, menjelaskan detik-detik pilu saat hidupnya direnggut dengan kejam.

Penyelidikan mengarah pada satu nama—seseorang yang diduga tahu betul kapan Sevi pergi dan tak kembali. Polisi belum membuka identitasnya ke publik. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk menangkapnya. Tapi waktu, bagi keluarga Sevi, bukan lagi sekutu. Mereka hanya ingin satu hal: keadilan.

Di sela-sela isak tangisnya, Sumaiyah berharap keadilan ditegakkan. Tapi apakah ada hukuman yang benar-benar setimpal untuk perbuatan sekeji itu? Ia berangkat demi hidup. Tapi maut yang memulangkannya—dalam kardus, dalam senyap.

Tragedi ini menyelimuti langit Sidoarjo dengan awan nestapa. Sumaiyah tak sekadar berduka—ia remuk sebagai ibu. Warga pun larut dalam kehilangan, sebab mereka tahu: tak ada yang lebih menyayat daripada perempuan yang berangkat demi nafkah, namun maut mengantarnya pulang dalam bingkisan kardus.

Sidoarjo, 27 Juli 2025

Tentang seorang perempuan yang pergi membawa tekad, tapi pulang dalam diam—dibungkus kardus, dimakamkan oleh ketidakadilan.

Tentang dunia yang tak pernah benar-benar aman untuk mereka yang bekerja dengan hati, tapi dihentikan dengan kekerasan.

Tentang malam yang tidak pernah selesai menakuti perempuan, bahkan ketika mereka hanya ingin pulang.


Tulisan ini berdasarkan pemberitaan Kompas.com


Seperti dalam kasus "Janji yang Retak, Bayi Yang Tumbang", rasa kehilangan dan keputusasaan sering kali muncul dalam wajah yang tak diduga.

Atau baca juga cerita kelam lainnya di arsip feature kriminal kami

 

.

Comments

Popular posts from this blog

Janji yang Retak, Bayi yang Tumbang

Sunyi di Ring Road: Juremi dan Malam Terakhirnya