Sunyi di Ring Road: Juremi dan Malam Terakhirnya

Bantul, 21 Maret 2025

Sore itu, hari belum benar-benar gelap, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu seolah bersiap menyambut malam. Namun, di tepi jalan Ring Road Selatan, malam terlambat—kematian datang lebih dulu.

Di sisi jalan itu, sebuah mobil Toyota Calya merah terparkir—sendiri. Di dalamnya, seorang pria ditemukan duduk kaku dalam kematian. Tak ada nama. Tak ada identitas. Dan yang paling menyakitkan—tak ada yang mencari.

Tepat pukul 5 sore, tubuhnya ditemukan duduk berserah seolah menyerah pada luka di kepala dan darah yang telah berhenti mengalir. Di dalam mobil itu, hidupnya berlalu dalam kesepian di tengah ramainya kota.

Seperti biasa, polisi datang mengevakuasi jasad dan barang bukti. Tubuh yang kesepian itu dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY untuk diperiksa lebih lanjut.

Tiga hari berlalu. Mayat diautopsi, penyelidikan digelar, dan kebenaran akhirnya muncul ke permukaan. Korban adalah Juremi (64), seorang lansia yang tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berakhir dengan begitu tragis. Lalu Yoga (30) pelaku. Masih muda. Masih kuat. Namun keji.

Menurut polisi, motif pembunuhan itu sederhana namun kejam: pelaku ingin menguasai mobil korban.

Juremi, seorang lansia asal Ngoto, Bangunharjo, Sewon. Tak pernah menyangka bahwa perkenalannya dengan Yoga seorang pria yang pernah bekerja untuknya—akan menjadi awal dari akhir hidupnya. Mereka tak benar-benar akrab. Tapi cukup bagi Yoga untuk tahu jalan masuk, dan cukup berani untuk mencari celah menghancurkan hidup seseorang.

Hari itu, mereka bertemu. Duduk bersama di dalam mobil. Entah apa yang dibicarakan. Entah siapa yang mulai curiga lebih dulu. Namun dalam ruang sempit mobil itu, darah tumpah. Kepala Juremi dihantam benda tumpul—berulang kali. Tak ada kesempatan melawan. Tak ada teriakan minta tolong. Hanya dinding-dinding mobil yang menjadi saksi.

Yoga pergi, meninggalkan korban. Tapi bukan hanya tubuhnya yang ditinggal, ia tinggalkan juga jejak, jejak yang membuat polisi akhirnya menangkapnya di tempat persembunyian. Tak ada perlawanan. Hanya pengakuan yang getir.

Kota ini ramai. Jalanan sibuk. Tapi seseorang bisa mati begitu sunyi. Bahkan di tengah lalu lintas, kita bisa tak terlihat. Juremi mati seperti itu—di dalam mobil, di tepi jalan, tanpa disadari siapa pun selama berjam-jam.

Mungkin kita mengira tragedi datang dengan sirine dan kerumunan. Tapi kadang, ia datang dalam bentuk yang biasa: pria tua, mobil merah, sore yang terlihat normal—sampai seseorang membuka pintu dan melihat darah telah berhenti mengalir.

Bantul, 21 Maret 2025

Tentang seorang lansia yang hanya ingin pulang tapi justru dijemput ajal.

Tentang kepercayaan yang dikhianati.

Tentang mobil merah yang menyimpan bukan sekadar mesin, tapi tragedi.

Dan tentang kota yang tetap sibuk, bahkan ketika seseorang mati dalam diam.


Tulisan ini berdasarkan pemberitaan di detik.com

Jika kisah ini menyentuhmu, kamu mungkin juga ingin membaca Tragedi Kendari: Malam Yang Merenggut Hidup Seorang Lansia 





Comments

Popular posts from this blog

Janji yang Retak, Bayi yang Tumbang

Ia Pergi Dengan Bungkusan Tekad, Pulang Dalam Bingkisan Kardus