Janji yang Retak, Bayi yang Tumbang

Lampung, 11 Januari 2025

Pagi itu, tangis yang biasanya membelah subuh tak lagi bersuara. Hanyut dalam sunyi. Tenggelam dalam kematian.

HS, bayi perempuan yang baru belajar memanggil ibu, ditemukan bersimbah darah. Di rumahnya sendiri. Satu luka tebas di kepala—cukup untuk merenggut dunia yang belum sempat ia genggam penuh.

Ia belum sempat tumbuh. Belum sempat bertegur sapa dengan tetangga. Belum memahami arti kehidupan.

Namun kematian datang terlalu dini, membawa pulang tubuh kecil yang tak pernah memilih untuk mati. Menyisakan diam yang terus menggema di dinding kamar.

Di rumah itu, kematian tak datang tanpa nama, ia merayap pelan tanpa suara dalam sosok yang biasa disebut ibu.

Namanya UD. Istri, ibu—kini pembunuh. Polisi menduga motifnya: depresi berat. Ia baru saja melahirkan, tubuhnya belum pulih total. Pikirannya masih belum stabil.

Namun pria yang seharusnya merawat luka pasca melahirkan justru menoreh luka baru—dengan perempuan lain. Suaminya hilang tanpa pamit, tanpa kecupan terakhir. Hanya tersisa janji yang dulu mereka ucap bersama.

Wanita itu masih rapuh. Jiwanya masih sakit. Namun, kenyataan menghantam tubuhnya dengan begitu keras. Tanpa ampun. Tanpa jeda.

Hingga pagi itu, saat jarum jam berhenti di 04:00, kewarasannya runtuh, golok di dapur seolah memanggil—lalu satu keputusan yang tak bisa dibatalkan terjadi.

UD menebas anaknya sendiri. Hanya sekali, namun luka itu cukup dalam untuk tak bisa sembuh, terlalu kejam untuk tubuh sekecil itu.

Setelah itu UD mencoba lari, bukan dari rumahnya. Namun dari kenyataan. Tangannya ia sayat, racun semut ia teguk. Ia mencoba bunuh diri namun kematian menolaknya.

Saat pagi mengantarkan warga dan kerabat datang mereka sudah terlambat. Tak ada suara yang menjelaskan apapun. Namun darah di lantai itu berbicara dengan jelas. HS tak akan kembali dan UD masih tetap sepi—tubuhnya masih belum utuh dan jiwanya tercerai-berai.

Tragedi ini bukan sekadar tragedi pembunuhan. Ini tragedi keluarga. Ayah yang seharusnya ada di sana, malah pergi. Ibu yang seharusnya memeluk, malah menebas. Dan bayi yang seharusnya menangis memecah pagi, malah diam, bukan karena lelap tapi ia tak lagi bisa.

Hukum akan berbicara, UD akan diadili. Namun satu pertanyaan akan terus membisu tanpa jawab: siapa yang benar-benar membunuh HS?. Ayah yang pergi? Ibu yang depresi? atau warga yang tak pernah peduli?.

Lampung Timur, 11 Januari 2025

Tentang tubuh kecil yang tak pernah memilih mati.

Tentang ibu yang sunyi dalam depresi, terluka dalam keheningan.

Tentang suami—ayah—yang seharusnya ada, tapi memilih pergi.

Tentang masyarakat yang baru peduli setelah tragedi berbicara lewat darah.

Dan tentang kenyataan yang datang tanpa aba-aba, menyadarkan bahwa tragedi keluarga tak selalu terlihat sampai semuanya terlambat.

Tulisan ini berdasarkan pemberitaan oleh detik.com




Jika tragedi ini membuatmu berpikir ulang tentang sunyi dan kekerasan dalam rumah, kamu mungkin juga perlu membaca kisah serupa di Kendari—tentang seorang lansia yang dibunuh di rumahnya sendiri. Baca juga: Tragedi Kendari: Malam Yang Merenggut Hidup Seorang Lansia


Comments

Popular posts from this blog

Ia Pergi Dengan Bungkusan Tekad, Pulang Dalam Bingkisan Kardus

Sunyi di Ring Road: Juremi dan Malam Terakhirnya