Tragedi Kendari: Malam Yang Merenggut Hidup Seorang Lansia

 Kendari, 01 Juli 2025.


Malam itu, angin bertiup pelan di Kota Kendari. Jalanan mulai lengang, lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Di balik ketenangan malam pertama bulan Juli, sebuah rumah di Jalan Syech Yusuf, Kelurahan Korumba, menyimpan kesunyian yang tak biasa.

AI, perempuan berusia 59 tahun, ditemukan tak bernyawa di dalam rumahnya. Tubuhnya tergeletak dalam kondisi setengah telanjang, lehernya mengalami luka yang diduga akibat sabetan benda tajam. Tak ada saksi mata yang melihat langsung kejadiannya. Hanya ada diam, darah, dan serpihan barang-barang pecah yang berserakan di lantai.

Keluarga mulai cemas sejak malam sebelumnya. Pesan tak dibalas, telepon tak dijawab. Hingga keesokan harinya, AI tetap tak memberi kabar.

“Sejak malam dihubungi tidak merespons. WA-nya cuma centang satu. Pagi sampai sore juga tidak aktif,” kata keponakannya, Ivonne, yang akhirnya meminta suami AI mengecek rumah itu.

Apa yang mereka temukan bukan sekadar kematian. Itu adalah perampasan hidup. Dugaan pembunuhan pun mencuat. Polisi datang, melakukan olah TKP, dan menemukan sejumlah barang bukti: pecahan botol, pecahan piring, beberapa potong pakaian dalam, dan sebuah parang di bak kamar mandi.

Tiga orang saksi langsung diperiksa. Tapi tak satu pun yang mampu menjelaskan secara pasti siapa pelakunya. Rumah itu terlalu senyap, terlalu tertutup, terlalu terlambat untuk menyelamatkan nyawa AI.

Sepuluh hari setelah penyelidikan dimulai, polisi akhirnya menangkap seorang pria bernama Usman di Wawotobi, Konawe. Ia bukan keluarga korban, tapi pernah bekerja pada suami AI. Cukup dekat untuk tahu jalan masuk. Cukup asing untuk tak punya empati.

Saat ditanya, Usman tak banyak bicara. Motifnya belum jelas. Polisi menyebut keterangannya masih “berputar-putar”.

Di tengah interogasi yang terus berjalan, satu pertanyaan tetap menggantung tanpa jawaban: mengapa? Mengapa seorang perempuan lansia, tinggal di rumahnya sendiri, harus kehilangan nyawa dengan cara setega itu?

Di Kendari, pembunuhan ini menyisakan lebih dari sekadar berita duka. Ia memunculkan kecemasan: berapa banyak perempuan, terutama lansia, yang hidup sendirian tanpa perlindungan? Seberapa rentan kita membiarkan mereka jadi sasaran kekerasan dalam sunyi?

Hari itu, AI dimakamkan. Tak ada ramai-ramai. Tak ada pengadilan cepat. Yang tersisa hanya rumah yang kembali sunyi, dan kota yang masih terus berjalan seolah tak terjadi apa-apa.

Kendari, Juli 2025.
Tentang satu luka di leher. Tentang tubuh yang seharusnya dijaga, bukan disakiti.
Tentang seorang perempuan yang hanya ingin hidup tenang, tapi malam merenggutnya dalam diam.




Jika kamu tertarik membaca kisah lain tentang bagaimana keputusan pemerintah bisa memicu gejolak masyarakat, kamu bisa membaca Surat Edaran dari Langit.

Comments

Popular posts from this blog

Janji yang Retak, Bayi yang Tumbang

Ia Pergi Dengan Bungkusan Tekad, Pulang Dalam Bingkisan Kardus

Sunyi di Ring Road: Juremi dan Malam Terakhirnya