Jupiter Z Yang Tertidur: Kisah Motor Kenangan dan Janji Yang Belum Selesai

 Tanah Merah, 10 Juli 2025.


Motor itu masih ada di teras samping rumah--diam, berkarat, dan berselimut debu. Jupiter Z-ku. Lampunya tak lagi menyala, suaranya tak lagi membelah pagi. Ia bukan lagi kendaraan, tapi peninggalan. Sebuah rangka besi yang menyimpan riwayat perjalanan, kenakalan, dan cita-cita.

Pagi ini, ketika kepalaku sibuk menggambar rencana masa depan, mataku tanpa sengaja jatuh padanya. Dan seperti pintu waktu, pandanganku mengembalikanku ke tahun-tahun yang belum terlalu jauh, tapi terasa sudah sangat lama.

Empat tahun yang lalu, Jupiter Z itu adalah teman paling setia yang kupunya. Setiap hari, ia mengantar pantatku ke bangku kuliah. Ia bukan hanya transportasi--ia adalah jam weker beroda dua, pengingat tugas, dan pelarian dari razia polisi.

Jam lima pagi, kami sudah melaju. Bukan karena rajin, tapi karena takut: takut pada petugas partai cokelat yang berjaga di setiap gang sekolah, takut pada polisi yang bisa menciduk kami kapan saja. Motor itu tak punya STNK, aku tak punya SIM. Tapi kami punya keberanian, atau mungkin kenekatan untuk menembus batas-batas hukum kecil demi belajar.

Kadang kami menyusuri jalan setapak di pinggiran sawah, kadang masuk gang sempit penuh lumpur. Ada harapan di setiap tikungan, ada degup jantung yang lebih keras dari mesin karburatornya.

Dan ia tak pernah mengeluh. Walau mesinnya cepat panas, walau lampunya seperti takut gelap, walau karburatornya suka "menangis", ia tetap ada. Tetap menyala. Tetap berjuang bersamaku.

Ia juga pengawal sunyi. Ketika teman-teman tak bisa diandalkan, ketika dunia terasa ramai tapi hampa, motor itulah yang selalu bisa kuajak pergi--meski hanya berkeliling tanpa tujuan. Ia memberiku ruang untuk berpikir, dan jarak untuk mengendapkan luka.

Tapi waktu tak pernah membuat perjanjian dengan kesetiaan. Satu pagi, ia tak mau menyala lagi. Mesin yang dulu mengaum gagah, kini bisu. Ia menyerah, pelan-pelan, tanpa pamit. Dan menyakitkannya: ia mati sebelum sempat melihatku pulang membawa selempang sarjana--hadiah kecil dari perjalanan yang ia dampingi sejak awal.

Aku tak sempat mengucapkan terima kasih. Tak sempat berkata: “Kita berhasil.”

Kini, ia tidur di sudut rumah. Karat demi karat memakan tubuhnya. Tapi kenangan itu tetap utuh--tidak lapuk, tidak redup.

Aku tahu, akan tiba saatnya aku membersihkannya. Membongkar mesinnya. Mengganti suku cadangnya. Menghidupkannya kembali.

Bukan karena aku butuh kendaraan. Tapi karena aku ingin menepati janji.
Karena di antara karat dan debu itu, tersimpan bagian dari diriku yang tak ingin mati.

Jupiter Z-ku, tunggulah sebentar lagi.
Kita akan kembali mengarungi jalanan Kupang.
Bukan sebagai pelarian, tapi sebagai perayaan.


Jika kamu menyukai kisah reflektif seperti ini, kamu mungkin juga ingin membaca Surat Edaran dari Langit, tentang sebuah aturan pemerintah yang datang terlambat dan membangunkan amarah rakyat yang lama diam.

Comments

Popular posts from this blog

Janji yang Retak, Bayi yang Tumbang

Ia Pergi Dengan Bungkusan Tekad, Pulang Dalam Bingkisan Kardus

Sunyi di Ring Road: Juremi dan Malam Terakhirnya